Tuhan menyesal atau tidak ? (menjawab tuduhan kontradiksi)

Posted: Oktober 12, 2012 in Tanya - Jawab tentang Alkitab

Tanya :
Tuhan menyesal atau tidak..?
A. Tuhan tidak punya sifat menyesal (Samuel 15:29, Bilangan 23:19).
b. Tuhan akhirnya menyesal (Kejadian 6:5-6 ; 1 Samuel IS: 10-11, 35 ; II Samuel 24:16 ; Yeremia 26:3, Yeremia 42:10, Keluaran 32:14).

Christian Answer :
Shalom..
Memang akan ada banyak kesalahpahaman yang terjadi  ketika memahami Alkitab secara gamblang. Kami akan membahas pertanyaannya di bawah ini :

1 Samuel 15:29
Lagi Sang Mulia dari Israel tidak berdusta dan Ia tidak tahu menyesal; sebab Ia bukan manusia yang harus menyesal.

וְגַם נֵצַח יִשְׂרָאֵל לֹא יְשַׁקֵּר וְלֹא יִנָּחֵם כִּי לֹא אָדָם הוּא לְהִנָּחֵם׃

VEGAM NÊTSAKH YISRÂ’ÊL LO’ YESYAQÊR VELO’ YINÂKHÊM KÏ LO’ ‘ÂDÂM HU’ LEHINÂKHÊM

Bilangan 23:19
Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?”

לֹא אִישׁ אֵל וִיכַזֵּב וּבֶן־אָדָם וְיִתְנֶחָם הַהוּא אָמַר וְלֹא יַעֲשֶׂה וְדִבֶּר וְלֹא יְקִימֶנָּה׃

LO’ ‘ÏSY ‘ÊL VÏKHAZÊV UVEN-‘ÂDÂM VEYITNEKHÂM HAHU’ ‘ÂMAR VELO’ YA’ASEH VEDIBER VELO’ YEQÏMENÂH

Ketika dalam ayat di atas Tuhan berkata bahwa Dia tidak menyesal, iitu berbicara tentang sifat dan karakter-Nya. Kedaulatan Allah adalah salah satu sikap Allah yang mencerminkan otoritas-Nya terhadap keputusan-Nya. Tapi ini tidak berarti bahwa Dia tidak dapat mengubah cara Dia bekerja dengan orang-orang seperti yang dituliskan dalam sejarah Alkitab. Ketika kita melihat Tuhan mengubah pikiran-Nya, kita melihat dari perspektif manusia. Contohnya,  Allah menyesal dan sedih telah menciptakan manusia yang akhirnya cenderung berbuat jahat di muka bumi.

Kejadian 6:6
maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.

וַיִּנָּחֶם יְהוָה כִּי־עָשָׂה אֶת־הָאָדָם בָּאָרֶץ וַיִּתְעַצֵּב אֶל־לִבֹּו׃

VAYINÂKHEM YEHOVÂH KÏ-‘ÂSÂH ‘ET-HÂ’ÂDÂM BÂ’ÂRETS VAYIT’ATSÊV ‘EL-LIBO

Kata וַיִּנָּחֶםVAYINAKHEM (lit. dan menyesal) berasal dari kata נחם  – NÂKHAM . Sebenarnya dalam bahasa asli Ibrani kata tersebut bermakna sesuatu yang tidak di inginkan. Jadi frasa kata וַיִּנָּחֶם יְהוָה –   VAYINAKHEM YEHOVAH sebenarnya berarti ada  sesuatu dalam perasaan Allah yang tidak diinginkan-Nya terjadi. Dalam artian ini artinya segala dosa dan kejahatan yang dibuat manusia adalah di luar dari kehendak Allah itu sendiri.. Allah tidak menciptakan manusia dengan harapan bahwa manusia harus jatuh ke dalam dosa dan berbuat kejahatan di muka bumi ini. Manusia jatuh kedalam dosa adalah murni kesalahan manusia yang tidak taat pada perintah-Nya dan begitu pun juga ketika manusia melakukan kejahatan.
Namun ini bukan berarti bahwa Allah berubah pendiriannya seperti yang dimaksud dalam konteks 1 Samuel 15:29 dan Bilangan 23:19, melainkan sebuah perasaan untuk sesuatu yang sebenarnya tidak diinginkan Allah terjadi. Kejadian 6:5-6 menyatakan bahwa Allah kecewa telah menciptakan manusia karena tidak sesuai dengan apa yang di harapkan-Nya.
Namun, jelas Dia tidak mengubah keputusan-Nya. Sebaliknya, melalui Nuh, Allah mengijinkan
manusia untuk terus eksis.
Perlu diingat juga bahwa konteks tersebut adalah sebuah deskripsi dari keadaan berdosa di mana manusia tinggal, dan itu adalah dosa manusia yang memicu kesedihan Allah, bukan keberadaan manusia. Begitu pun juga dalam ayat-ayat lainnya (2 Samuel 24:16 ; Yeremia 26:3, Yeremia 42:10, Keluaran 32:14) yang menggambarkan perasaan Allah untuk sesuatu yang sebenarnya tidak diinginkan-Nya terjadi.

Jadi ayat dalam 1 Samuel 15:29 dan Bilangan 23:19 berbicara mengenai sifat dan karakter Allah yang konsisten dalam keputusan-Nya, sedangkan ayat dalam Kejadian 6:5-6, 2 Samuel 24:16, Yeremia 26:3, Yeremia 42:10, dan Keluaran 32: 14 berbicara tentang perasaan Allah yang sebenarnya tidak menginginkan hal tersebut terjadi. Contohnya dalam Kejadian 6 yaitu bahwa Allah sebenarnya tidak menginginkan manusia yang diciptakan-Nya berbuat kejahatan dan dosa sehingga harus dihukum, tapi Allah yang adil tetap konsisten dan tidak merubah keputusan-Nya dan manusia tetap di hukum.

Jelas ketika kita memahaminya, hal tersebut bukanlah sebuah kontradiksi.

God Bless..

Komentar
  1. Rafdi Sumolang mengatakan:

    Ada banyak ayat Kitab Suci yang mengatakan bahwa Allah menyesal, seperti Kej 6:5-6 Kel 32:10-14 1Sam 15:11a,35b Yes 38:1,5 Yer 18:8 Yunus 3:10 Amos 7:3,6. Apakah ini berarti bahwa Allah mengubah RencanaNya? Tidak!

    Penjelasan:

    1) Prinsip Hermeneutics yang sangat penting adalah: kita tidak boleh menafsirkan suatu bagian Kitab Suci sehingga bertentangan dengan bagian lain dari Kitab Suci. Karena itu, maka penafsiran ayat-ayat pada point D) ini tidak boleh bertentangan dengan ayat-ayat pada point B) dan C) di atas. Kalau kita menafsirkan bahwa ‘Allah menyesal’ dalam ayat-ayat di sini memang menunjukkan bahwa Allah mengubah rencanaNya, maka jelas bahwa ayat-ayat ini akan bertentangan dengan ayat-ayat pada point B) dan C) di atas.

    2) ‘Allah menyesal’ adalah bahasa Anthropopathy.

    Kitab Suci sering menggunakan bahasa Anthropomorphism (bahasa yang menggambarkan Allah seakan-akan Ia adalah manusia) dan Anthropopathy (bahasa yang menggambarkan Allah dengan perasaan-perasaan manusia). Kalau Kitab Suci menggunakan bahasa Anthropomorphism, maka tidak boleh diartikan betul-betul demikian. Misalnya pada waktu dikatakan ‘tangan Allah tidak kurang panjang’ (Yes 59:1), atau pada waktu dikatakan ‘mata TUHAN ada di segala tempat’ (Amsal 15:3), ini tentu tidak berarti bahwa Allah betul-betul mempunyai tangan / mata. Ingat bahwa Allah adalah Roh (Yoh 4:24). Contoh lain adalah Kel 31:17b – “sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, dan pada hari yang ketujuh Ia berhenti bekerja untuk beristirahat”. NIV menterjemahkan seperti Kitab Suci Indonesia, tetapi KJV, RSV, NASB menterjemahkan secara berbeda.

    KJV: ‘for in six days the LORD made heaven and earth, and on the seventh day he rested, and was refreshed’ (= karena dalam enam hari TUHAN membuat langit dan bumi, dan pada hari ketujuh Ia beristirahat, dan segar kembali).

    Jelas bahwa kita tidak bisa menafsirkan ayat ini seakan-akan Allahnya loyo setelah bekerja berat selama enam hari, dan lalu setelah beristirahat pada hari yang ketujuh, Ia lalu segar kembali / pulih kekuatanNya! Ayat ini hanya menggambarkan Allah seakan-akan Ia adalah manusia yang bisa letih, dan bisa segar kembali.

    Demikian juga pada waktu Kitab Suci menggunakan Anthropopathy (bahasa yang menggambarkan Allah menggunakan perasaan-perasaan manusia), maka kita tidak boleh mengartikan bahwa Allahnya betul-betul seperti itu. Contohnya adalah ayat-ayat yang menunjukkan ‘Allah menyesal’ ini.

    Perlu juga saudara ingat bahwa manusia bisa menyesal, karena ia tidak maha tahu. Misalnya, seorang laki-laki melihat seorang gadis dan ia menyangka gadis itu seorang yang layak ia peristri. Tetapi setelah menikah, barulah ia tahu akan adanya banyak hal jelek dalam diri istrinya itu yang tadinya tidak ia ketahui. Ini menyebabkan ia lalu menyesal telah memperistri gadis itu.

    Tetapi Allah itu maha tahu, sehingga dari semula Ia telah tahu segala sesuatu yang akan terjadi. Karena itu tidak mungkin Ia bisa menyesal!

    Kalau Kitab Suci mengatakan bahwa Allah menyesal karena terjadinya sesuatu hal, maka maksudnya hanyalah menunjukkan bahwa hal itu tidak menyenangkan Allah. Calvin mengatakan bahwa ‘Allah menyesal’ hanya menunjukkan perubahan tindakan.

    Calvin: “Now the mode of accommodation is for him to represent himself to us not as he is in himself, but as he seems to us. Although he is beyond all disturbance of mind, yet he testifies that he is angry toward sinners. Therefore whenever we hear that God is angered, we ought not to imagine any emotion in him, but rather to consider that this expression has been taken from our human experience; because God, whenever he is exercising judgment, exhibits the appearance of one kindled and angered. So we ought not to understand anything else under the word ‘repentance’ than change of action, …” (= Cara penyesuaian adalah dengan menyatakan diriNya sendiri kepada kita bukan sebagaimana adanya Ia dalam diriNya sendiri, tetapi seperti Ia terlihat oleh kita. Sekalipun Ia ada di atas segala gangguan pikiran, tetapi Ia menyaksikan bahwa Ia marah kepada orang-orang berdosa. Karena itu setiap saat kita mendengar bahwa Allah marah, kita tidak boleh membayangkan adanya emosi apapun dalam Dia, tetapi menganggap bahwa pernyataan ini diambil dari pengalaman manusia; karena Allah, pada waktu Ia melakukan penghakiman, menunjukkan diri seperti seseorang yang marah. Demikian juga kita tidak boleh mengartikan apapun yang lain terhadap kata ‘penyesalan’ selain perubahan tindakan, …) – ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XVII, no 13.

    3) Pada waktu Kitab Suci mengatakan ‘Allah menyesal’ maka itu berarti bahwa hal itu ditinjau dari sudut pandang manusia.

    Illustrasi:

    Ada seorang sutradara yang menyusun naskah untuk sandiwara, dan ia juga sekaligus menjadi salah satu pemain sandiwara tersebut. Dalam sandiwara itu ditunjukkan bahwa ia mau makan, tetapi tiba-tiba ada telpon, sehingga ia lalu tidak jadi makan. Dari sudut penonton, pemain sandiwara itu berubah pikiran / rencana. Tetapi kalau ditinjau dari sudut naskah / sutradara, ia sama sekali tidak berubah dari rencana semula, karena dalam naskah sudah direncanakan bahwa ia mau makan, lalu ada telpon, lalu ia mengubah rencana / pikirannya, dsb.

    Pada waktu Kitab Suci berkata ‘Allah menyesal’ maka memang dari sudut manusia, Allahnya menyesal / mengubah rencanaNya. Tetapi dari sudut Allah / Rencana Allah, sebetulnya tidak ada perubahan, karena semua perubahan / penyesalan itu sudah direncanakan oleh Allah.

    Dengan demikian jelaslah bahwa kata-kata ‘Allah menyesal’ dalam Kitab Suci, tidak menunjukkan bahwa Allah bisa mengubah rencanaNya!

  2. jekzenronaldkewas77 mengatakan:

    Shalom Rafdi..

    Silahkan dibaca dulu apologi diatas dengan lebih seksama.. Saya tidak menafsirkan bahwa Allah menyesal dan merubah keputusan-Nya, melainkan menjelaskan makna ayat-ayat diatas sesuai dengan prinsip hermeneutica yaitu kajian tekstual dan kontekstual. Makanya saya menggali akar kata yang diterjemahkan sebagai menyesal yaitu “nakhem”. Dalam bahasa asli Ibrani kata nakhem lebih bermakna perasaan kecewa akibat sesuatu yang sebenarnya tidak di inginkan terjadi BUKAN merubah keputusan-Nya. Dalam artian ini artinya segala dosa dan kejahatan yang dibuat manusia adalah di luar dari kehendak Allah itu sendiri.. Predestinasi Allah mutlak namun bukan berarti kehendak manusia tidak ada.. Ingat contoh yang terjadi pada Yudas dan Pilatus.. Walaupun predestinasi Allah mutlak dan telah menetapkan peristiwa penyaliban Yesus tapi apa yang dilakukan Yudas dan Pilatus bukan akibat keterpaksaan menjalankan misi Tuhan, karena bagaimana pun free will manusia itu ada namun posisinya jauh dibawah kedaulatan Allah.. Allah tidak menciptakan manusia dengan harapan bahwa manusia harus jatuh ke dalam dosa dan berbuat kejahatan di muka bumi ini . namun kejahatan manusia muncul akibat kehendak bebasnya. Meski begitu bukan berarti predestinasi Allah ada diatas kehendak bebas manusia. TIDAK !! Melainkan predestinasi Allah jauh diatas kehendak bebasnya manusia.

    Dalam konteks inilah perasaan Allah kecewa dan sedih melihat kejahatan manusia dimuka bumi.. Tapi bukan berarti Allah merubah keputusan-Nya.. TIDAK !! Allah memang melenyapkan manusia dengan air bah tapi Allah menyisakan keluarga Nuh untuk melanjutkan generasi kehidupan manusia. Makanya itu sama sekali tidak bermakna Allah tidak konsisten dgn keputusan-Nya..

    Silahkan dibaca lagi artikel diatas dengan lebih teliti.😀

  3. jekzenronaldkewas77 mengatakan:

    Qoute :

    Calvin: “Now the mode of accommodation is for him to represent himself to us not as he is in himself, but as he seems to us. Although he is beyond all disturbance of mind, yet he testifies that he is angry toward sinners. Therefore whenever we hear that God is angered, we ought not to imagine any emotion in him, but rather to consider that this expression has been taken from our human experience; because God, whenever he is exercising judgment, exhibits the appearance of one kindled and angered. So we ought not to understand anything else under the word ‘repentance’ than change of action, …” (= Cara penyesuaian adalah dengan menyatakan diriNya sendiri kepada kita bukan sebagaimana adanya Ia dalam diriNya sendiri, tetapi seperti Ia terlihat oleh kita. Sekalipun Ia ada di atas segala gangguan pikiran, tetapi Ia menyaksikan bahwa Ia marah kepada orang-orang berdosa. Karena itu setiap saat kita mendengar bahwa Allah marah, kita tidak boleh membayangkan adanya emosi apapun dalam Dia, tetapi menganggap bahwa pernyataan ini diambil dari pengalaman manusia; karena Allah, pada waktu Ia melakukan penghakiman, menunjukkan diri seperti seseorang yang marah. Demikian juga kita tidak boleh mengartikan apapun yang lain terhadap kata ‘penyesalan’ selain perubahan tindakan, …) – ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter XVII, no 13.

    Tanggapan :

    Memang benar dan itu juga sudah dijelaskan secara sederhana diatas..
    Ini saya kutip :

    “Ketika kita melihat Tuhan mengubah pikiran-Nya, kita melihat dari perspektif manusia.”
    🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s